Sabtu, 15 Desember 2012

Pengaruh Emosi Terhadap Penyesuaian Pribadi dan Sosial AUD



 
     Pengaruh Emosi Terhadap Penyesuaian Pribadi dan Sosial AUD
      Hurlocka, 1978:211 menyebutkan bahwa emosi mempengaruhi penyesuaian pribadi sosial dan anak. Pengaruh tersebut antara lain tampak dari peranan emosi sebagai berikut:
  • Emosi menambah rasa nikmat bagi pengalaman sehari-hari. Salah satu bentuk emosi adalah luapan perasaan, misalnya kegembiraan, ketakutan ataupun kecemasan. Luapan ini menimbulkan kenikmatan tersendiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan memberikan pengalaman tersendiri bagi anak yang cukup bervariasi untuk memperluas wawasannya.
  • Emosi menyiapkan tubuh untuk melakukan tindakan. Emosi dapat mempengaruhi keseimbangan dalam tubuh, terutama emosi yang muncul sangat kuat, sebagai contoh kemarahan yang cukup besar. Hal ini memunculkan aktivitas persiapan bagi tubuh untuk bertindak, yaitu hal-hal yang akan dilakukan ketika tibul amarah. Apabila persiapan ini ternyata tidak berguna, akan dapat menyebabkan timbulnya rasa gelisah, tidak nyaman, atau amarah yang justru terpendam dalam diri anak.
  • Ketegangan emosi mengganggu keterampilan motorik. Emosi yang memuncak mengganggu kemampuan motorik anak. Anak yang terlalu tegang akan memiliki gerakan yang kurang terarah, dan apabila ini berlangsung lama dapat mengganggu keterampilan motorik anak.
  • Emosi merupakan bentuk komunikasi. Perubahan mimik wajah, bahasa tubuh, suara, dan sebagainya merupakan alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyatakan perasaan dan pikiran (komunikasi non verbal).
  • Emosi mengganggu aktivitas mental. Kegiatan mental, seperti berpikir, berkonsentrasi, belajar, sangat dipengaruhi oleh kestabilan emosi. Oleh karena itu, pada anak-anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan emosi dapat mengganggu aktivitas mentalnya.
  • Emosi merupakan sumber penilaian diri dan sosial. Pengelolaan emosi oleh anak sangat mempengaruhi perlakuan orang dewasa terhadap anak, dan ini menjadi dasar bagi anak dalam menilai dirinya sendiri.
  • Emosi mewarnai pandangan anak terhadap kehidupan. Peran-peran anak dalam aktivitas sosial, seperti keluarga, sekolah, masyarakat, sangat dipengaruhi oleh perkembangan emosi mereka, seperti rasa percaya diri, rasa aman, atau rasa takut.
  • Emosi mempengaruhi interaksi sosial. Kematangan emosi anak mempengaruhi cara anak berinteraksi dengan lingkungannya. Di lain pihak, emosi juga mengajarkan kepada anak cara berperilaku sehingga sesuai dengan ukuran dan tuntutan lingkungan sosial.
  • Emosi memperlihatkan kesannya pada ekspresi wajah. Perubahan emosi anak biasanya ditampilkan pada ekspresi wajahnya, misalnya tersenyum, murung atau cemberut. Ekspresi wajah ini akan mempengaruhi penerimaan sosial terhadap anak.
  • Emosi mempengaruhi suasana psikologis. Emosi mempengaruhi perilaku anak yang ditunjukkan kepada lingkungan (covert behavior). Perilaku ini mendorong lingkungan untuk memberikan umpan balik. Apabila anak menunjukkan perilaku yang kurang menyenangkan, dia akan menerima respon yang kurang menyenangkan pula, sehingga anak akan merasa tidak dicintai atau diabaikan.
  • Reaksi emosional apabila diulang-ulang akan berkembang menjadi kebiasaan. Setiap ekspresi emosi yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan, dan pada suatu titik tertentu akan sangat sulit diubah. Dengan demikian, anak perlu dibiasakan dengan mengulang-ulang perilaku yang bersifat positif, sehingga akan menjadi kebiasaan yang positif pula.

 Kondisi yang mempengaruhi perkembangan emosi AUD
       Hurlock (1993), dalam mengungkapkan begbagai kondisi yang mempengaruhi perkembangan sosial emosional anak menyebutkan 3 kondisi utama yaitu:
·        Kondisi Fisik
Apabila kondisi keseimbangan tubuh terganggu karena kelelahan, kesehatan yang buruk atau perubahan yang berasal dari perkembangan maka merreka akan mengalami emosi yang meninggi. Kondisi-kondisi fisik yang mengganggu adalah sebagai berikut:
a.       Kesehatan yang buruk
Disebabkan oleh gizi yang buruk, gangguan pencernaan atau penyakit. Kondisi kesehatan yang buruk pada seseorang akan membuat dirinya menjadi terbatas disbanding dengan orang yang sehat, apalagi jika kondisi tersebut berlangsung lama. Dengan kondisi seperti orang tersebut, maka ia tidak bisa melakukan aktivitas secara penuh maka ia menjadi tertekan dan akibatnya mudah marah terhadap orang lain.
b.      Kondisi yang merangsang
Seperti kaligata atau eksim. Penyakit kulit, termasuk rasa gatal, apalagi joika terdapat pada bagian-bagian yang terbuka akan menyebabkan sipenderita menutup diri dan mungkin menjadi minder. Contohnya saja anak yang terkena penyakit gatal-gatal pada bagian tangan atau muka, ia akan merasa malu atau marah jika ditertawakan temannya.
c.       Setiap gangguan kronis
Seperti asma atau penyakit kencing manis. Disini anak merasa tertekan jika penyakit nya kambuh secara tiba-tiba yang membuat ia menangis sebagai luapan emosinya.
d.      Perubahan kelenjar
                         Terutama pada masa puber, gangguan kelenjer juga disebabkan oleh stress emosi                                        
                         yang kronis, misalnya pada kecemasan yang berlebihan
·        Kondisi Psikologi
Kondisi psikologi dapat mempengaruhi emosi, antara lain tingkat intelegensi, tingkat aspirasi dan kecemasan.
ü  Perlengkapan intelektual yang buruk. Anak tang tingkat intelektualnya rendah, rata-rata  mempunyai pengendalian emosi yang kurang dibandingkan dengan anak  yang pandai dengan tingkat umur yang sama.
ü  Kegagalan mencapai tingkat aspirasi. Kegagalan yang berulang-ulang dapat mengakibatkantimbulnya keadaan cemas, sedikit atau banyak.
ü  Kecemasan setelah pengalaman emosi tertentu yang sangat luas. Sebagai contoh akibat lanjutan dari pengalaman yang menakutkan akan mengakibatkan anak takut kepada setiap situasi yang dirasakan mengancam.

·        Kondisi Lingkungan
Ketegangan yang terus-menerus atau terlalu banyak pengalaman yang menggelisahkan yang merangsang anak secara berlebihan akan berpengaruh pada emosi anak.
o   Ketegangan yang disebabkan oleh pertengkaran dan perselisihan yang terus-menerus. Pertengkaran atau perselisihan  dalam konteks interaksi sosial secara terus-menerus akan mengakibatkan timbulnya emosi dan akibatnya merusak hubunga sosial sehingga anak bias melukai jika kekesalannya sudah amat kuat.
o   Ketegangan yang berlebihan serta disiplin yang otoriter. Disiplin yang dipaksakan akan berdampak buruk bagi anak dan bisa anak memberontak jika kita tidak memberikan penjelasan pada anak.
o   Sikap orang tua yang selalu mencemaskan atau terlalu melindungi. Melindungi yang terlampau (over protective) akan mengkibatkan penolakan dari orang yang disayanginya, seolah-olah rasa saying dibalas dengan benci.
o   Susana otoriter di sekolah. Guru yang terlalu menuntut atau perkejaan sekolah yang tidak sesuai dengan kemampuan anak akan menimbulkan kemarahan sehingga anak pulang kerumah dalam keadaan kesal.






Metoda Belajar Yang Menunjang Perkembangan Emosi AUD
Untuk membantu proses perkembangan emosi anak usia dini, seorang guru dapat melakukan beberapa metode pembalajaran berikut:
1.      Bernyanyi dan Bermain Musik
Musik memberikan dampak nyata pada perkembangan emosional manusia. Oleh karena itu, bermain music bagi anak sangat penting dan memberikan pengaruh yang cukup kuat dalam pengembangan emosinya. Mahmud (1995) mengatakan bahwa musik dapat menimbulkan rasa kesatuan dan persatuan, rasa kebangsaan, rasa keagamaan, rasa kagum, rasa gembira, dan sebagainya. Manfaat musik yang lain antaranya mendorong gerak piker dan rasa, nmembangkitkan kekuatan dalam jiwa dan watak. Musik menanamkan dalam jiwa manusia perasaan yang halus atau budi yang halus.
2.      Bermain peran
Bermain peran adalah permainan yang dilakukan anak dengan cara memarankan tokoh-tokoh, benda-benda, binatang ataupun tumbuhan yang disekitar anak. Melalui permainan ini daya imajinasi, kreativitas, empati serta penghayatan anak dapat berkembang. Anak-anak dapat menjadi apapun yang diinginkannya dan ia juga dapat melakukan manipulasi terhadap objek, seperti yang diharapkan. Jika ia mengagumi ibunya, ia akan memerankan tokoh ibunya, seperti yang biasa ia lihat. Dalam memahami drama anak-anak Harley (2000) mendefinisikan bermain peran adalah bentuk permainan bebas dari anak-anak yang masih mudah adalah salah satu cara bagi mereka untuk menulurusi dunianya, dengan memerankan tindakan dan karakter dari orang-orang yang berada disekitarnya.
3.      Permainan Hand puppet
Hand puppet atau permainan dengan menggunakan boneka tangan, merupakan satu permainan yang digemari anak-anak usia TK. Melalui permainan ini anak belajar berkomunikasi, berimajinasi, mengekspresikan perasaannya dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Adanya manfaat yang cukup besar dalam mengekspresikan emosi, sebagian terapis telah menggunakan permainan hand puppet ini untuk teratur.
4.      Latihan relaksasi dan meditasi dengan musik
Rachmawati  (1998) mengatakan bahwa proses relaksasi yang dilakukan pada anak cukup efektif untuk latihan pengenalan emosi diri mereka sendiri atau terbentuknya keterampilan emotional awareness. Selain itu aktivitas meditative dengan music dapat membantu proses kataris dimana individu mengeluarkan emosi-emosi yang ditekan, menciptakan ketenangan, dan meningkatkan aktivitas pembelajaran pada anak.

5.      Bercerita
Bercerita bagi seorang anak adalah sesuatu yang menyenangkan. Melalui cerita anak dapat mengembangkan imajinasinya menjadi apa pun yang dia inginkan. Dalam cerita, seorang dapat memperoleh nilai yang banyak dan berarti bagi proses pembelajaran dan perkembangannya, termasuk di dalamnya perkembangan emosi dan sosialnya.
6.      Permainan Gerak dan Lagu
Permainan gerak dan lagu merupakan aktivitas bermain music sambil menari. Anak-anak sangat menyukaia permainan ini terutama jika memodifikasi lagu-lagu yang diperdengarkan. Pertama, putar music klasik di awal kegiatan, anak-anak diminta bergerak bebas mengikuti alunan musik. Tiba-tiba musik kita matikan di tengah-tengah dan anak-anak pun berhenti bergerak dan berpura-pura menjadi patung. Berikutnya, putar lagu yang kedua dari jenis music dangdut , dan bergerak bebas sesuai irama dangdut, dan anak pun bergerak sesuia dengan iramanya. Semakin beraneka macam irama music, kegiatan akan semakin menyenangkan dan emosi anak semakin terekpresikan.
7.      Permainan Feeling Band
Menurut Newcomb (1994) permainan feeling band atau band perasaan adalah permainan membunyikan instrument music sesuai dengan ekspresi perasaan. Permainan ini sangat membantu anak untuk melakukan proses katarsis,menyadari perasaanya sendiri dan bersenang-senang.
8.      Demontrasi
Demontrasi adalah kegiatan member contoh atau memperlihatkan secara langsung dalam melakukan suatu perbuatan atau perilaku. Tujuan penerapan metode ini adalah untuk katarsis atau mengeluarkan emosi yang ditekan, self awareness atau kesadaran terhadap diri sendiri  serta pengenalan berbagai bentuk emosi.
9.      Permainan Personifikasi
Permainan personifikasi adalah permainan yang dilakukan dengan cara meniru gerakan binatang atau tumbuhan seolah-olah mereka hidup manusia. Dalam permainan ini anak dapat berpura-pura menjadi rintik hujan,menjadi selembar daun yang terbang tertiup angin atau pohon yang tumbang. Permainan ini membutuhkan perasaan yang halus dari anak. Sekalian itu empati dan perhatian anak terhadap pola hidup makhluk lain juga dilatih. Melalui permainan ini kepercayaan diri, keberanian, berekspresi, kreativitas, dan imajinasi anak ikut terkembangkan.




Bahaya  Perkembangan Emosi Masa AUD
Emosi memainkan peranan penting dalam kehidupan. Hal ini menyangkut tentang perkembangan dan pengaruhnya dalam penyesuaian pribadi serta sosial. Lalu bagaimana emosi mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak? Sebelumnya, tidak ada salahnya apabila Anda mengetahui pengaruh-pengaruh emosi tehadap penyesuaian pribadi dan sosial anak agar Anda lebih paham. Pengaruhnya antara lain yaitu emosi menambah rasa nikmat bagi pengalaman, emosi menyiapkan tubuh untuk melakukan tindakan, ketegangan emosi juga dapat mengganggu keterampilan motorik, dan aktifitas mental emosi merupakan suatu bentuk komunikasi. Emosi juga dapat mempengaruhi interaksi sosial serta suasana psikologis. Selain hal-hal tersebut, perlu juga diketahui faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan emosi. Yaitu faktor pematangan (maturation) dan faktor belajar. Dari kedua faktor tersebut, faktor belajar lebih penting karena belajar merupakan faktor yang lebih dapat dikendalikan.
Selanjutnya tentang pola-pola emosi secara umum. Perlu Anda ketahui, beberapa bulan setelah bayi lahir, muncul berbagai macam pola emosi yaitu rangsangan yang membangkitkan emosi serta reaksi yang khas. Reaksi itu antara lain rasa takut, rasa marah, rasa cemburu, dukacita, keingintahuan, kegembiraan dan kasih sayang. Emosi akan mempunyai kekuatan dominan dalam kehidupan dan emosi yang dominan adalah dari semua emosi, salah satu atau beberapa diantaranya, menimbulkan pengaruh yang terkuat terhadap perilaku seseorang. Sementara itu emosi yang dominan mempengaruhi kepribadian anak, dan kepribadian anak mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial. Emosi yang dominan, akan menentukan temperamen atau suasana hati yang dirasakan anak. Oleh karena itu keseimbangan emosi pada anak juga penting.
Anda juga sebaiknya mengetahui cara-cara untuk menangani hal tersebut. Keseimbangan emosi dapat diperoleh melalui dua cara. Pertama adalah pengendalian lingkungan dengan tujuan agar emosi yang tidak menyenangkan cepat-cepat diimbangi dengan emosi yang menyenangkan yang lebih banyak sehingga timbangan akan condong ke arah emosi yang menyenangkan. Cara kedua yaitu dengan membantu anak mengembangkan toleransi terhadap emosi yaitu kemampuan untuk menghambat pengaruh emosi yang tidak menyenangkan. Kemudian hal yang harus dilakukan ialah mengendalikan emosi. Hal ini sangat penting, supaya anak-anak dapat berkembang secara normal. Dan dapat dilakukan dengan cara memberikan perhatian pada aspek mental dari emosi sebanyak perhatian pada aspek fisik, juga dapat diatasi dengan belajar bagaimana cara menangani rangsangan yang membangkitkan emosi, serta anak-anak harus belajar pula bagaimana cara mengatasi reaksi yang biasanya menyertai emosi tersebut.
Hal terakhir yaitu bahaya dalam perkembangan emosi. Anda perlu mengetahui juga hal-hal yang paling umum tentang bahaya yang mungkin timbul bagi perkembangan emosi. Antara lain yaitu keterlantaran emosional yang ada hubungannya dengan keterlantaran kasih sayang, terlalu banyak kasih sayang, dominasi emosi yang tidak menyenangkan, emosionalitas yang meninggi, kegagalan belajar mengendalikan emosi, kegagalan belajar toleransi emosi serta adanya penghalang katarsis emosi. Hal-hal inilah yang merupakan bahaya dalam perkembangan emosi. Karena pengendalian lingkungan semakin sulit dengan meningkatnya usia anak, maka anak yang lebih tua diharapkan harus belajar toleransi emosi, yaitu belajar menerima dan menyesuaikan diri dengan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan, agar keseimbangan emosi dapat dicapai.













1 komentar: